Kamis, 01 Desember 2011
Kamis, 24 November 2011
Relay dan Kontaktor (Relay and Magnetic Contactor)
Relay dan Kontaktor (Relay and Magnetic Contactor)
Pemahaman sederhananya adalah bila kita memberikan arus listrik pada coil relay atau kontaktor, maka saklar internalnya juga akan terhubung. Selain itu juga ada saklar internalnya yang terputus. Hal tersebut sama persis pada kerja tombol push button, hanya berbeda pada kekuatan untuk menekan tombolnya.
Saklar internal inilah yang disebut sebagai kontak NO (Normally Open= Bila coil contactor atau relay dalam keadaan tak terhubung arus listrik, kontak internalnya dalam kondisi terbuka atau tak terhubung) dan kontak NC (Normally Close= Sebaliknya dengan Normally Open). Seperti dijelaskan pada gambar dibawah ini.
Relay dianalogikan sebagai pemutus dan penghubung seperti halnya fungsi pada tombol (Push Button) dan saklar (Switch)., yang hanya bekerja pada arus kecil 1A s/d 5A. Sedangkan Kontaktor dapat di analogikan juga sebagai sebagai Breaker untuk sirkuit pemutus dan penghubung tenaga listrik pada beban. Karena pada Kontaktor, selain terdapat kontak NO dan NC juga terdapat 3 buah kontak NO utama yang dapat menghubungkan arus listrik sesuai ukuran yang telah ditetapkan pada kontaktor tersebut. Misalnya 10A, 15A, 20A, 30A, 50Amper dan seterusnya. Seperti pada gambar dibawah ini.
gambar kontak internal pada Kontaktor
Penyambungan sederhana rangkaian kontaktor:
Perhatikan bagaimana lampu akan menyala ketika switch saklar dihubungkan ke sumber listrik. Mengapa begitu repot menggunakan kontaktor untuk menyalakan sebuah lampu bohlam? Mengapa rangkain ini menggunakan dua buah sumber listrik yang berbeda?
Itulah yang disebut Rangkain Pengendali dan Rangkain Utama.
Time Delay Relay (Timer) dan Thermal Over Load Relay (Tripper)
Kontak NO dan NC pada Timer (Time Delay Relay)
akan bekerja ketika timer diberi ketetapan waktunya, ketetapan waktu
ini dapat kita tentukan pada potensiometer yang terdapat pada timer itu
sendiri. Misalnya ketika kita telah menetapkan 10 detik, maka kontak NO
dan NC akan bekerja 10 detik setelah kita menghubungkan timer dengan
sumber arus listrik.
Sedikit berbeda dengan kontak NO dan NC yang terdapat di Timer, padaTripper (Thermal Over Load Relay) kontak NO dan NC nya bekerja karena mendapat daya tekan dari bimetal trip yang terdapat di dalamnya. Bimetal Trip ini akan melengkung apabila resistance wire dilewati arus lebih besar dari nominalnya dan menekan lengan kontak, sehingga kontak NC berubah menjadi kontak NO.
Kegunaan NO dan NC
Setelah paham bagaimana kerja kontak NO dan NC yang terdapat pada peralatan tersebut diatas, maka saya sarankan untuk mempelajari bagaimana kontak NO NC tersebut digunakan semaksimal mungkin untuk sebuah rangkaian pengendali pada rangkaian utama.
Setelah paham bagaimana kerja kontak NO dan NC yang terdapat pada peralatan tersebut diatas, maka saya sarankan untuk mempelajari bagaimana kontak NO NC tersebut digunakan semaksimal mungkin untuk sebuah rangkaian pengendali pada rangkaian utama.
Time Delay Relay
TDR (Time Delay Relay) sering disebut juga relay timer atau relay penunda batas waktu banyak digunakan dalam instalasi motor terutama instalasi yang membutuhkan pengaturan waktu secara otomatis.
Peralatan kontrol ini dapat dikombinasikan dengan peralatan kontrol lain, contohnya dengan MC (Magnetic Contactor), Thermal Over Load Relay, dan lain-lain.
Fungsi
dari peralatan kontrol ini adalah sebagai pengatur waktu bagi
peralatan yang dikendalikannya. Timer ini dimaksudkan untuk mengatur
waktu hidup atau mati dari kontaktor atau untuk merubah sistem bintang
ke segitiga dalam delay waktu tertentu.
Timer dapat dibedakan dari cara kerjanya yaitu timer yang bekerja menggunakan induksi motor dan menggunakan rangkaian elektronik.
Timer yang bekerja dengan prinsip induksi motor akan bekerja bila motor
mendapat tegangan AC sehingga memutar gigi mekanis dan memarik serta
menutup kontak secara mekanis dalam jangka waktu tertentu.
Sedangkan
relay yang menggunakan prinsip elektronik, terdiri dari rangkaian R
dan C yang dihubungkan seri atau paralel. Bila tegangan sinyal telah
mengisi penuh kapasitor, maka relay akan terhubung. Lamanya waktu tunda
diatur berdasarkan besarnya pengisisan kapasitor.
Bagian input timer biasanya dinyatakan sebagai kumparan (Coil) dan bagian outputnya sebagai kontak NO atau NC.
Kumparan
pada timer akan bekerja selama mendapat sumber arus. Apabila telah
mencapai batas waktu yang diinginkan maka secara otomatis timer akan
mengunci dan membuat kontak NO menjadi NC dan NC menjadi NO.
Pada umumnya timer memiliki 8 buah kaki yang 2 diantaranya merupakan kaki coil sebagai contoh pada gambar di atas adalah TDR type H3BA dengan 8 kaki yaitu kaki 2 dan 7 adalah kaki coil,
sedangkan kaki yang lain akan berpasangan NO dan NC, kaki 1 akan NC
dengan kaki 4 dan NO dengan kaki 3. Sedangkan kaki 8 akan NC dengan
kaki 5 dan NO dengan kaki 6. Kaki kaki tersebut akan berbeda tergantung
dari jenis relay timernya.
Minggu, 13 November 2011
PLC (PROGRAMMABLE LOGIC CONTROLLER)
2.1 Pengertian
Programmable
Logic Controllers (PLC) adalah komputer elektronik yang mudah digunakan (user
friendly) yang memiliki fungsi kendali untuk berbagai tipe dan tingkat
kesulitan yang beraneka ragam [2].
Definisi
Programmable Logic Controller menurut Capiel (1982) adalah :
sistem elektronik yang beroperasi secara
dijital dan didisain untuk pemakaian di lingkungan industri, dimana sistem ini
menggunakan memori yang dapat diprogram untuk penyimpanan secara internal
instruksi-instruksi yang mengimplementasikan fungsi-fungsi spesifik seperti
logika, urutan, perwaktuan, pencacahan dan operasi aritmatik untuk mengontrol
mesin atau proses melalui modul-modul I/O dijital maupun analog [3].
Berdasarkan namanya konsep PLC
adalah sebagai berikut :
1.
Programmable
menunjukkan
kemampuan dalam hal memori untuk menyimpan program yang telah dibuat yang
dengan mudah diubah-ubah fungsi atau kegunaannya.
2.
Logic
menunjukkan
kemampuan dalam memproses input secara aritmatik dan logic (ALU), yakni
melakukan operasi membandingkan, menjumlahkan, mengalikan, membagi, mengurangi,
negasi, AND, OR, dan lain sebagainya.
3.
Controller
menunjukkan
kemampuan dalam mengontrol dan mengatur proses sehingga menghasilkan output
yang diinginkan.
PLC ini dirancang untuk menggantikan suatu rangkaian relay
sequensial dalam suatu sistem kontrol. Selain dapat
diprogram, alat ini juga dapat dikendalikan, dan dioperasikan oleh orang yang
tidak memiliki pengetahuan di bidang pengoperasian komputer secara khusus. PLC
ini memiliki bahasa pemrograman yang mudah dipahami dan dapat
dioperasikan bila program yang telah dibuat dengan menggunakan software yang
sesuai dengan jenis PLC yang digunakan sudah dimasukkan.
Alat ini bekerja berdasarkan input-input yang ada dan
tergantung dari keadaan pada suatu waktu tertentu yang kemudian akan meng-ON
atau meng-OFF kan output-output. 1 menunjukkan bahwa keadaan yang diharapkan terpenuhi sedangkan 0 berarti
keadaan yang diharapkan tidak terpenuhi. PLC juga dapat diterapkan untuk
pengendalian sistem yang memiliki output banyak.
Fungsi dan kegunaan PLC sangat
luas. Dalam prakteknya PLC dapat dibagi secara umum dan secara khusus [4].
Secara umum fungsi PLC adalah sebagai berikut:
1.
Sekuensial
Control
PLC
memproses input sinyal biner menjadi output yang digunakan untuk keperluan
pemrosesan teknik secara berurutan (sekuensial), disini PLC menjaga agar
semua step atau langkah dalam proses sekuensial berlangsung dalam urutan yang
tepat.
2.
Monitoring
Plant
PLC secara
terus menerus memonitor status suatu sistem (misalnya temperatur, tekanan,
tingkat ketinggian) dan mengambil tindakan yang diperlukan sehubungan dengan
proses yang dikontrol (misalnya nilai sudah melebihi batas) atau menampilkan
pesan tersebut pada operator.
Sedangkan
fungsi PLC secara khusus adalah dapat memberikan input ke CNC (Computerized
Numerical Control). Beberapa PLC dapat memberikan input ke CNC untuk
kepentingan pemrosesan lebih lanjut. CNC bila dibandingkan dengan PLC mempunyai
ketelitian yang lebih tinggi dan lebih mahal harganya. CNC biasanya dipakai
untuk proses finishing, membentuk benda kerja, moulding dan sebagainya.
Prinsip
kerja sebuah PLC adalah menerima sinyal masukan proses yang dikendalikan lalu
melakukan serangkaian instruksi logika terhadap sinyal masukan tersebut sesuai
dengan program yang tersimpan dalam memori lalu menghasilkan sinyal keluaran
untuk mengendalikan aktuator atau peralatan lainnya.
![]() |
Gambar 2.1 Hubungan PLC dengan CNC
2.2
Keuntungan dan Kerugian PLC [2][5]
Dalam industri-industri yang ada
sekarang ini, kehadiran PLC sangat dibutuhkan terutama untuk menggantikan
sistem wiring atau pengkabelan yang sebelumnya masih digunakan dalam
mengendalikan suatu sistem. Dengan menggunakan PLC akan diperoleh banyak
keuntungan diantaranya adalah sebagai berikut:
Ø
Fleksibel
Pada masa lalu, tiap perangkat
elektronik yang berbeda dikendalikan dengan pengendalinya masing-masing. Misal
sepuluh mesin membutuhkan sepuluh pengendali, tetapi kini hanya dengan satu PLC
kesepuluh mesin tersebut dapat
dijalankan dengan programnya masing-masing.
Ø
Perubahan dan pengkoreksian kesalahan sistem lebih mudah
Bila salah satu sistem akan diubah atau
dikoreksi maka pengubahannya hanya dilakukan pada program yang terdapat di
komputer, dalam waktu yang relatif singkat, setelah itu didownload ke PLC-nya.
Apabila tidak menggunakan PLC, misalnya relay maka perubahannya dilakukan
dengan cara mengubah pengkabelannya. Cara ini tentunya memakan waktu yang lama.
Ø
Jumlah kontak yang banyak
Jumlah kontak yang dimiliki oleh PLC
pada masing-masing coil lebih banyak daripada kontak yang dimiliki oleh sebuah
relay.
Ø
Harganya lebih murah
PLC mampu menyederhanakan banyak
pengkabelan dibandingkan dengan sebuah relay. Maka harga dari sebuah PLC lebih
murah dibandingkan dengan harga beberapa buah relay yang mampu melakukan
pengkabelan dengan jumlah yang sama dengan sebuah PLC. PLC mencakup relay,
timers, counters, sequencers, dan berbagai fungsi lainnya.
Ø Pilot running
PLC yang terprogram dapat dijalankan dan
dievaluasi terlebih dahulu di kantor atau laboratorium. Programnya dapat
ditulis, diuji, diobserbvasi dan dimodifikasi bila memang dibutuhkan dan hal
ini menghemat waktu bila dibandingkan dengan sistem relay konvensional yang
diuji dengan hasil terbaik di pabrik.
Ø
Observasi visual
Selama program dijalankan, operasi pada
PLC dapat dilihat pada layar CRT. Kesalahan dari operasinya pun dapat diamati
bila terjadi.
Ø
Kecepatan operasi
Kecepatan operasi PLC lebih cepat
dibandingkan dengan relay. Kecepatan PLC ditentukan dengan waktu scannya dalam
satuan millisecond.
Ø
Metode Pemrograman Ladder atau Boolean
Pemrograman PLC dapat dinyatakan dengan
pemrograman ladder bagi teknisi, atau aljabar Boolean bagi programmer yang
bekerja di sistem kontrol digital atau Boolean.
Ø
Sifatnya tahan uji
Solid state device lebih tahan uji
dibandingkan dengan relay dan timers mekanik atau elektrik. PLC merupakan solid
state device sehingga bersifat lebih tahan uji.
Ø
Menyederhanakan komponen-komponen sistem kontrol
Dalam PLC juga terdapat counter, relay
dan komponen-komponen lainnya, sehingga tidak membutuhkan komponen-komponen
tersebut sebagai tambahan. Penggunaan relay membutuhkan counter, timer ataupun
komponen-komponen lainnya sebagai peralatan tambahan.
Ø
Dokumentasi
Printout dari PLC dapat langsung diperoleh
dan tidak perlu melihat blueprint circuit-nya.
Tidak seperti relay yang printout sirkuitnya tidak dapat diperoleh.
Ø
Keamanan
Pengubahan pada PLC tidak dapat
dilakukan kecuali PLC tidak dikunci dan diprogram. Jadi tidak ada orang yang
tidak berkepentingan dapat mengubah program PLC selama PLC tersebut dikunci.
Ø
Dapat melakukan pengubahan dengan pemrograman ulang
Karena PLC dapat diprogram ulang secara
cepat, proses produksi yang bercampur dapat diselesaikan. Misal bagian B akan
dijalankan tetapi bagian A masih dalam proses, maka proses pada bagian B dapat
diprogram ulang dalam satuan detik.
Ø Penambahan rangkaian lebih cepat
Pengguna dapat menambah rangkaian
pengendali sewaktu-waktu dengan cepat, tanpa memerlukan tenaga dan biaya yang
besar seperti pada pengendali konvensional.
Selain keuntungan yang telah disebutkan di atas maka ada
kerugian yang dimiliki oleh PLC, yaitu:
Ø
Teknologi yang masih baru
Pengubahan sistem kontrol lama yang
menggunakan ladder atau relay ke konsep komputer PLC merupakan hal yang sulit
bagi sebagian orang
Ø
Buruk untuk aplikasi program yang tetap
Beberapa aplikasi merupakan aplikasi
dengan satu fungsi. Sedangkan PLC dapat mencakup beberapa fungsi sekaligus.
Pada aplikasi dengan satu fungsi jarang sekali dilakukan perubahan bahkan tidak
sama sekali, sehingga penggunaan PLC pada aplikasi dengan satu fungsi akan
memboroskan (biaya).
Ø
Pertimbangan lingkungan
Dalam suatu pemrosesan, lingkungan
mungkin mengalami pemanasan yang tinggi, vibrasi yang kontak langsung dengan
alat-alat elektronik di dalam PLC dan hal ini bila terjadi terus menerus,
mengganggu kinerja PLC sehingga tidak berfungsi optimal.
Ø
Operasi dengan rangkaian yang tetap
Jika rangkaian pada sebuah operasi tidak
diubah maka penggunaan PLC lebih mahal dibanding dengan peralatan kontrol
lainnya. PLC akan menjadi lebih efektif bila program pada proses tersebut di-upgrade secara periodik.
2.3 Rangkaian Start-Stop [5]
Banyak sistem mempunyai sebuah
sistem Master Control Relay untuk Safety Shutdown pada operasi
PLC. Ketika ON, safety shutdown mengijinkan PLC untuk beroperasi. Ketika
di-deenergize, maka PLC tidak akan beroperasi. Tipe sistem master
shutdown seperti yang terlihat pada
gambar di halaman berikut:

Gambar 2.2 Skema Master Control Safety Shutdown
Pada gambar di atas jika tombol
Start di tekan (ON) maka coil MCR akan ter-energize sehingga anak relay MCR
akan ter-energize pula sehingga PLC akan beroperasi. Walaupun tombol Start
kembali ke posisinya semula (OFF), coil MCR tetap ter-energize karena adanya
anak relay MCR lain pararel dengan tombol Start. Ketika tombol Stop ditekan
(OFF), maka rangkaian menjadi terbuka yang menyebabkan tidak ada lagi aliran
arus ke coil MCR, sehingga coil MCR tidak ter-energize lagi. Karena coil MCR
tidak ter-energize lagi maka dua anak relaynya akan OFF sehingga PLC akan OFF
(tidak beroperasi).
Pada gambar di atas terdapat pula Emergency
Stop Pushbutton yang digunakan apabila terjadi sesuatu pada sistem sehingga
sistem harus dimatikan. Selain itu terdapat sebuah limit switch yang
berhubungan dengan pintu dimana sistem PLC diletakkan. Apabila pintu tersebut
dibuka maka limit switch OFF sehingga coil MCR tidak ter-energize yang
menyebabkan sistem PLC akan OFF, apabila pintu ditutup maka limit switch akan
ON sehingga sistem PLC akan ON pula. Sedangkan Suppressor digunakan
untuk mengurangi atau menghilangkan
sinyal gangguan dari luar yang dapat membuat program sistem PLC menjadi malfunction.
2.4 Bagian-Bagian PLC
Sistem PLC terdiri dari lima
bagian pokok, yaitu:
Ø Central
processing unit (CPU).
Bagian ini
merupakan otak atau jantung PLC, karena bagian ini merupakan bagian yang
melakukan operasi / pemrosesan program yang tersimpan dalam PLC. Disamping itu
CPU juga melakukan pengawasan atas semua operasional kerja PLC, transfer
informasi melalui internal bus antara PLC, memory dan unit I/O.
Bagian CPU ini antara lain
adalah :
q Power Supply, power supply mengubah suplai masukan listrik
menjadi suplai listrik yang sesuai dengan CPU dan seluruh komputer.
q Alterable Memory, terdiri dari banyak bagian, intinya bagian ini
berupa chip yang isinya di letakkan pada chip RAM (Random Access Memory),
tetapi isinya dapat diubah dan dihapus oleh pengguna / pemrogram. Bila
tidak ada supplai listrik ke CPU maka isinya akan hilang, oleh sebab itu bagian ini disebut bersifat volatile, tetapi ada juga bagian yang tidak bersifat volatile.
q Fixed Memory, berisi program yang sudah diset oleh pembuat PLC,
dibuat dalam bentuk chip khusus yang dinamakan ROM (Read Only Memory),
dan tidak dapat diubah atau dihapus selama operasi CPU, karena itu bagian ini
sering dinamakan memori non-volatile yang tidak akan terhapus isinya
walaupun tidak ada listrik yang masuk ke dalam CPU. Selain itu dapat juga
ditambahkan modul EEPROM atau Electrically Erasable Programmable Read Only Memory yang ditujukan untuk back up program
utama RAM prosesor sehingga prosesor dapat diprogram untuk meload program
EEPROM ke RAM jika program di RAM hilang atau rusak [6].
q Processor, adalah bagian yang mengontrol supaya informasi tetap jalan dari bagian yang satu ke bagian
yang lain, bagian ini berisi rangkaian clock, sehingga masing-masing
transfer informasi ke tempat lain tepat sampai pada waktunya
q Battery Backup, umumnya CPU memiliki bagian ini. Bagian ini
berfungsi menjaga agar tidak ada kehilangan program yang telah dimasukkan ke
dalam RAM PLC jika catu daya ke PLC tiba-tiba terputus.
Ø Programmer
/ monitor (PM).
Pemrograman
dilakukan melalui keyboard sehingga alat ini dinamakan Programmer. Dengan
adanya Monitor maka dapat dilihat apa yang diketik atau proses yang
sedang dijalankan oleh PLC. Bentuk PM ini ada yang besar seperti PC, ada juga
yang berukuran kecil yaitu hand-eld programmer dengan jendela tampilan yang
kecil, dan ada juga yang berbentuk laptop. PM dihubungkan dengan CPU melalui
kabel. Setelah CPU selesai diprogram maka PM tidak dipergunakan lagi untuk
operasi proses PLC, sehingga bagian ini hanya dibutuhkan satu buah untuk banyak
CPU.

Fiber optics
cables
Or
Twisted pair of wires plus ground
Or
Coaxial
Cable Multiple
wires To input
Multiple wires
optional To output
remote
connection up to One Mile
I/O module
optional connection
to
Connections
master
computer
to
input
switches
contacts, etc
Connections
To
Outputs-
Coils
Alarms,etc
Gambar 2.3 Layout Sistem PLC dan koneksinya
Ø Modul
input / output (I/O).
Input merupakan bagian yang menerima sinyal
elektrik dari sensor atau komponen lain dan sinyal itu dialirkan ke PLC untuk
diproses. Ada banyak jenis modul input yang dapat dipilih dan jenisnya
tergantung dari input yang akan digunakan. Jika input adalah limit
switches dan pushbutton dapat dipilih kartu input DC. Modul input
analog adalah kartu input khusus yang menggunakan ADC (Analog to Digital Conversion) dimana kartu ini digunakan untuk input
yang berupa variable seperti temperatur, kecepatan, tekanan dan posisi.
Pada umumnya ada 8-32 input point setiap modul inputnya. Setiap
point akan ditandai sebagai alamat yang unik oleh prosesor.
Output adalah bagian PLC yang menyalurkan sinyal
elektrik hasil pemrosesan PLC ke peralatan output. Besaran informasi / sinyal
elektrik itu dinyatakan dengan tegangan listrik antara 5 - 15 volt DC dengan
informasi diluar sistem tegangan yang bervariasi antara 24 - 240 volt DC mapun
AC. Kartu output biasanya mempunyai 6-32 output point dalam
sebuah single module. Kartu output analog adalah tipe khusus dari modul output
yang menggunakan DAC (Digital to Analog Conversion). Modul output analog dapat mengambil nilai dalam 12 bit dan
mengubahnya ke dalam signal analog. Biasanya signal ini 0-10 volts DC atau 4-20
mA. Signal Analog biasanya digunakan pada peralatan seperti motor yang
mengoperasikan katup dan pneumatic position control devices.
Bila
dibutuhkan, suatu sistem elektronik dapat ditambahkan untuk menghubungkan modul
ini ke tempat yang jauh. Proses operasi sebenarnya di bawah kendali PLC mungkin
saja jaraknya jauh, dapat saja ribuan meter.
Ø Printer.
Alat ini
memungkinkan program pada CPU dapat di printout atau dicetak. Informasi yang
mungkin dicetak adalah diagram ladder, status register, status dan daftar dari
kondisi-kondisi yang sedang dijalankan, timing diagram dari kontak, timing
diagram dari register, dan lain-lain.
Ø The
Program Recorder / Player.
Alat ini digunakan
untuk menyimpan program dalam CPU. Pada PLC yang lama digunakan tape, sistem floopy
disk. Sekarang ini PLC semakin berkembang
dengan adanya hard disk yang digunakan untuk pemrograman dan perekaman. Program
yang telah direkam ini nantinya akan direkam kembali ke dalam CPU apabila
program aslinya hilang atau mengalami kesalahan.
Untuk
operasi yang besar, kemungkinan lain adalah menghubungkan CPU dengan komputer
utama (master computer) yang biasanya
digunakan pada pabrik besar atau proses yang mengkoodinasi banyak Sistem PLC .
2.5 Konsep Perancangan Sistem Kendali dengan PLC [7][8]
Dalam merancang suatu sistem kendali
dibutuhkan pendekatan-pendekatan sistematis dengan prosedure sebagai berikut :
1. Rancangan Sistem Kendali
Dalam tahapan
ini si perancang harus menentukan terlebih dahulu sistem apa yang akan
dikendalikan dan proses bagaimana yang akan ditempuh. Sistem yang dikendalikan
dapat berupa peralatan mesin ataupun proses yang terintegrasi yang sering
secara umum disebut dengan controlled system.
2. Penentuan I/O
Pada tahap ini semua piranti masukan dan
keluaran eksternal yang akan dihubungkan PLC harus ditentukan. Piranti masukan
dapat berupa saklar, sensor, valve dan lain-lain sedangkan piranti keluaran
dapat berupa solenoid katup elektromagnetik dan lain-lain.
3. Perancangan Program (Program Design)
Setelah ditentukan input dan output maka
dilanjutkan dengan proses merancang
program dalam bentuk ladder diagram dengan mengikuti aturan dan urutan operasi
sistem kendali.
4. Pemrograman (Programming)
5. Menjalankan Sistem (Run The System)
Pada tahapan ini perlu dideteksi adanya
kesalahan-kesalahan satu persatu (debug), dan menguji secara cermat sampai kita
memastikan bahwa sistem aman untuk dijalankan.
Langganan:
Komentar (Atom)
